New York, Suararepublik.id – Menteri Lingkungan Hidup / Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Moh. Jumhur Hidayat menegaskan Indonesia menerjemahkan komitmen iklim ke dalam aksi lintas sektor yang menyatukan pertumbuhan ekonomi, ketahanan energi, pengentasan kemiskinan, dan perlindungan lingkungan.
Pesan itu disampaikan dalam Interactive Leaders Dialogue pada Climate Summit 2026 on Climate Action and the Just Transition yang menjadi rangkaian Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di Markas Besar PBB New York, Rabu (23/9/2026).
Climate Summit 2026 dibuka oleh Sekjen PBB António Guterres dan dihadiri para kepala negara, pimpinan organisasi internasional, lembaga keuangan multilateral, dunia usaha, serta perwakilan pemuda. Hadir antara lain Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan, PM Australia Anthony Albanese, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Presiden Palau Surangel Whipps Jr., dan PM Barbados Mia Mottley.
Forum ini digelar menjelang COP31 untuk menjawab tiga tantangan utama: mempercepat penurunan emisi dan transisi berkeadilan, memperluas pembiayaan terjangkau bagi negara berkembang, serta memperkuat adaptasi dan ketahanan iklim.
“Persetujuan Paris menjadi kompas kita. Namun, ketika ruang untuk menjaga kenaikan suhu 1,5 derajat Celsius semakin menyempit, tugas kita adalah menjembatani komitmen global menjadi hasil nyata, dengan berpedoman pada keadilan serta prinsip tanggung jawab bersama yang berbeda-beda sesuai kemampuan masing-masing,” ujar Jumhur.
Dari Komitmen ke Pelaksanaan
Indonesia menyampaikan NDC sebagai arah menuju net-zero emissions pada 2060 atau lebih cepat. Aksi iklim harus berjalan seiring pertumbuhan ekonomi, ketahanan energi, pengentasan kemiskinan, dan peningkatan resiliensi masyarakat.
“Paradigma pembangunan Indonesia jelas: pertumbuhan dan perlindungan lingkungan harus maju bersama,” tegas Jumhur.
Indonesia memaparkan aksi lintas sektor: pengurangan emisi dari limbah dan metana, dekarbonisasi industri, pembangunan industri rendah karbon, penerapan carbon capture, utilisation and storage (CCUS), pengembangan energi surya skala besar, penerapan B50 untuk ketahanan energi, serta pengembangan kendaraan listrik sebagai bagian transformasi industri dan penguatan nilai tambah dalam negeri.
“Bahwa dalam transisi itu, harus adil, tertib, dipimpin negara, dan berpusat pada rakyat. Keberhasilan transisi tidak hanya diukur dari teknologi atau nilai investasi, melainkan juga dari keterjangkauan energi, kerja layak, nilai tambah lokal, perlindungan kelompok rentan, serta manfaat lingkungan yang nyata,” katanya.
Pembiayaan, Adaptasi, dan Aksi Nyata
Pesan tersebut dilengkapi melalui tiga Solution Dialogues Indonesia mengenai pembiayaan iklim, pembiayaan adaptasi dalam era overshoot, dan pengurangan metana.
Dalam dialog pembiayaan, Indonesia menekankan pembiayaan harus mengikuti kebutuhan implementasi NDC dan National Adaptation Plan (NAP), mulai dari penyiapan proyek, teknologi, peningkatan kapasitas, hingga transparansi. Hibah dan pembiayaan sangat konsesional tetap penting bagi data risiko, sistem peringatan dini, perlindungan ekosistem, dan aksi komunitas.
Indonesia juga mendorong dukungan loss and damage yang tepat waktu, memadai, dan mudah diakses bagi negara dan masyarakat yang menghadapi dampak cuaca ekstrem.
Pengurangan metana menjadi contoh aksi yang memberi manfaat langsung. Perbaikan pengelolaan sampah dan air limbah, ekonomi sirkular, serta penguatan MRV dapat menurunkan emisi sekaligus memperbaiki kualitas udara dan kesehatan. Metana menyumbang 18,12 persen dari total emisi gas rumah kaca Indonesia pada 2022.
Sebagai negara kepulauan, Indonesia menekankan adaptasi harus berjalan bersama mitigasi. Indonesia mengembangkan Giant Sea Wall di pantai utara Jawa, sekaligus melindungi dan merestorasi mangrove serta ekosistem pesisir.
Menjelang COP31 di Antalya, Indonesia mendorong kemajuan yang kredibel dalam pelaksanaan dan peningkatan New Collective Quantified Goal on Climate Finance.
“Indonesia siap memperdalam kemitraan yang mengubah ambisi iklim menjadi peluang pembangunan yang nyata dan ketahanan bagi semua,” tutup Jumhur.
(Ida)

