Yogyakarta,suararepublik.id–Pimpinan Pusat Muhammadiyah menerima kunjungan silaturahmi Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Republik Indonesia pada Jumat (30/10).

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam pertemuan yang digelar di Aula Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta itu menyampaikan sejumlah gagasan strategis, mulai dari redefinisi pengelolaan sampah, gerakan penyelamatan hutan, hingga pentingnya komitmen nasional terhadap paradigma pembangunan berwawasan lingkungan.

Pertama, Haedar menegaskan program lingkungan hidup yang digarap Muhammadiyah tidak hanya berfokus pada pemeliharaan fisik semata, melainkan juga menyentuh ranah edukasi praktis dan spiritual. Ia menyambut baik gagasan Menteri Lingkungan Hidup RI, Moh. Jumhur Hidayat, terkait “Taubat Ekologis” sebagai pendekatan ekoteologi.

“Jadi ini bukan hanya pemeliharaan tapi juga advokasi ya, bahkan ada program tobat ekologis yang saya yakin itu ada aspek teologisnya,” ujar Haedar.

Kedua, Haedar menjelaskan gerakan yang semakin masif di Muhammadiyah, yakni gerakan Wakaf Hutan. Muhammadiyah memanfaatkan aset lahan kosong, khususnya tanah wakaf milik persyarikatan, untuk ditanami kembali sebagai upaya konservasi lingkungan.

Haedar juga menyoroti pentingnya pemerintah merangkul publik sekaligus melakukan penindakan yang hati-hati dalam penegakan hukum lingkungan. Kontrol publik dinilai sangat krusial dalam mengawasi kepatuhan korporasi atau pihak yang tidak taat aturan.

“Kalau memang itu tindakan-tindakan kriminal dilakukan oleh pihak tertentu dengan tujuan-tujuan tertentu, itu seharusnya urusan pidana yang harus teratasi. Tapi jika menyangkut habit penduduk setempat yang biasa bakar lahan karena keterbatasan teknologi, ya ini menjadi problem yang harus bisa kita pecahkan bersama,” pesannya.

Di akhir, Haedar menekankan pentingnya menyepakati paradigma mendasar yang dipegang teguh seluruh elemen bangsa, yaitu paradigma “Membangun Tanpa Merusak”.Paradigma ini sejalan dengan prinsip Ihsan dalam Islam.

Ia mengingatkan agar Indonesia tidak terjebak dalam romantisme lingkungan yang ekstrem yang melarang sepenuhnya pemanfaatan alam. Sebaliknya, masyarakat harus diberdayakan untuk mengelola alam secara bertanggung jawab demi kesejahteraan bersama.

Merujuk buku Why Nations Fail karya James Robinson, Haedar menggarisbawahi bahwa Indonesia tidak boleh sekadar menyalin mentah-mentah model pembangunan dari luar, melainkan harus bertumpu pada kekuatan masyarakat dan institusinya.

“Dan jangan jatuh dari mulut harimau ke mulut buaya. Intinya nafsu-nafsu yang merusak, kita tidak menghendaki itu,” pungkasnya.

Sementara itu, Menteri LH RI Moh. Jumhur Hidayat mengungkap gagasannya tentang “Tobat Ekologis”. Bagi KLH, Tobat Ekologis bukan sekadar slogan, melainkan panggilan untuk memperbaiki hubungan manusia dengan alam yang selama beberapa dekade mengalami ketidakseimbangan.

Gagasan ini sejalan dengan ekoteologi, cara pandang yang melihat pelestarian lingkungan bukan hanya sebagai kewajiban sosial, tetapi juga amanah moral dan spiritual.

“Urusan lingkungan itu urusan semua, maka ini harus menjadi gerakan yang besar,” ucap Jumhur.

Hadir dalam pertemuan tersebut Ketua PP Muhammadiyah Agung Danarto, Agus Taufiqurrahman, Sekretaris PP Muhammadiyah Muhammad Sayuti, Bendahara Umum PP Pemuda Muhammadiyah Machendra Setyo Atmaja, dan jajaran KLH RI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *