Jakarta, Suararepublik.id – RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso merupakan rumah sakit vertikal Kementerian Kesehatan yang berperan dalam pelayanan, pendidikan, dan penelitian penyakit infeksi. Keselamatan pasien menjadi pusat pelayanan tapi mengabaikan pelayanan BPJS kesehatan dan lebih mengutamakan pelayanan umum yang bayar.
Hal tersebut di saat seorang pasien anak yang terkena gigitan seekor hewan dan di bawa ke RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso yang merupakan arahan dari salah satu rumah sakit pemerintah DKI di karena pasien tersebut di gigit hewan peliharaan.
Setelah di bawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso, bahwa pasien tersebut memang mendapatkan perawatan dan akan di suntikan anti Tetanus oleh seorang dokter jaga, tetapi lain cerita di karena pasien pertama masuk dengan fasilitas BPJS tiba-tiba ada seorang pasien yang baru datang di karena di gigit hewan juga dengan menggunakan fasilitas umum yang bayar.
Berselang beberapa saat dokter Denny selalu dokter jaga di IGD tersebut merubah rencana dengan pasien pertama lebih dulu masuk yang menggunakan BPJS tidak di berikan suntikan anti tetanus dan suntikan tersebut di berikan kepada pasien umum yang harus bayar dengan nominal ratusan ribu.
Lalu dokter Denny tersebut mengatakan kepada orang tua pasien pertama bahwa obat anti tetanus sedang kosong dan saat ini hanya di berikan edukasi cara pembersihan luka bekas gigitan hewan yang di alami pasien perempuan yang bernama CH (13) dan hanya di berikan obat antibiotik dan rasa nyeri.
Berapa jam CH sampai di rumah akibat gigitan hewan tersebut masih di rasakan oleh CH, dan kedua orang tua pasien berujung mengajak kembali ke RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso untuk mempertanyakan adanya perbedaan antara pasien BPJS dengan pelayanan umum.
Setelah mempertanyakan ke IGD dokter Denny mengarahkan untuk ketemu dengan bagian supervisi RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso ibu Empy, tetapi dalam pertemuan tersebut dilakukan di area ruang tunggu oleh ibu Empy.
Tujuan pertemuan tersebut bahwa kedua orang tua pasien ingin mempertanyakan terkait dengan pelayanan yang dilakukan oleh RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso yang mengutamakan pelayanan umum dari pada pasien BPJS.
Dalam pertemuan tersebut terjadi adu argumentasi antara petugas supervisi RSPI dengan keluarga pasien dengan mempertanyakan kinerja seorang dokter jaga IGD dengan adanya mengutamakan pasien umum daripada pasien BPJS terkait pemberian suntikan dimana pasien BPJS yang pertama datang di bilang obat vaksin tetanus HABIS setelah adanya pasien kedua yang menggunakan fasilitas UMUM dan bayar.
Tetapi supervisi ibu Empy tetap mengatakan stock suntikan vaksin tetanus yang tersedia sudah lama kosong, di karenakan obat tersebut kosong dari pabriknya.
“Benar pak obat suntik anti tetanus yang ada di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso sudah habis lama dikarenakan obat dari pabriknya kosong juga, maka dokter Denny menganjurkan untuk di bawa ke salah satu RS swasta kemungkinan masih ada stocknya,” ujar Empy, menyampaikan informasi dari dokter Denny, Senin (31/8/2026).
“Oleh karenanya maka di harapkan pasien tersebut di bawa ke RS Ibu dan Anak mungkin RS tersebut masih ada stock,” tambah dokter Denny
Melihat kejadian tersebut apa yang di katakan ibu Empy selaku Supervisi yang mengatakan bahwa suntikan vaksin tetanus yang ada di RSPI Sulianti Suroso habis di karenakan stock di pabrik pusatnya juga kosong, justru menjadi pertanyaan untuk seorang bapak yang salah satu anaknya juga sedang dalam perawatan di IGD.
“Sangat aneh saja RSPI Sulianti Saroso ini merupakan rumah sakit kementerian kesehatan, masa bisa kehabisan stock vaksin anti tetanus bahkan menyarankan pindah k RS swasta,” ujar bapak yang enggan disebutkan namanya.
“Ucapan bu Empy saja bang yang abang pegang, kalau stock anti tetanus kosong dan pabriknya kosong kenapa di RS Swasta yang lainnya ada?” tambah bapak tersebut.
Keesokan harinya CH pasien tersebut di bawa ke RSUD Koja untuk di lakukan suntikan vaksin tetanus dan stock di RSUD Koja pun masih ada dan tidak ada kekurangan hasil info bagian farmasi RSUD Koja.
Apa bedanya suntikan Vaksin Tetanus dan Anti Rabies?
Apakah semua orang yang habis di gigit atau di cakar hewan harus di berikan suntikan tetanus? Atau vaksin anti Rabies?
Menurut keterangan dokter Denny “Tidak semua yang di gigit hewan di berikan vaksin anti rabies bisa dengan anti tetanus”.
Menurut keterangan Anggit salah satu praktisi kesehatan ” Setahu saya itu vaksin tetanus do berikan kepada pasien yang lukanya terkena benda berkarat atau tajam, dan apabila pasien tersebut di gigit hewan apapun wajib di suntikan vaksin anti rabies,”
Melihat kejanggalan management rumah sakit Sulianti Suroso yang di wakili oleh ibu Empy selaku Supervisi yang mengatakan stock obat bisa habis bahkan mengetahui bahwa di pabrik pembuatan vaksin tetanus kosong, justru warga masyarakat bisa mempertanyakan status RSPI Sulianti Saroso bisa mengetahui pabrik nya kosong.
Jika benar pabrik pembuatan vaksin anti tetanus itu kosong, maka kenapa beberapa rumah sakit swasta dan pemerintah masih ada stocknya?
Anak CH (13) meminta bapak Prabowo selaku Presiden RI bisa ambil tegas tindakan RSPI Sulanti Saroso yang di anggap telah mengabaikan pasien BPJS di bandingkan dengan Pasien Umum.
(Aly)

