Jakarta, Suararepublik.id – Pengolahan sampah dari sumbernya menjadi salah satu bagian dalam penanganan persoalan sampah di wilayah padat penduduk. Salah satu pendekatan yang dilakukan di Rusunawa Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, adalah pengolahan sampah organik menggunakan fasilitas biodigester komunal.
Fasilitas tersebut mengolah sampah organik menjadi energi biogas yang dapat dimanfaatkan kembali oleh warga, termasuk untuk kebutuhan memasak.
Ketua Panitia Khusus Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan (Pansus CSR/TJSL) DPRD DKI Jakarta Ghozi Zulazmi mengatakan, sampah organik memiliki porsi besar dari timbulan sampah rumah tangga sehingga membutuhkan pengolahan khusus.
“Sekitar 60 persen sampah kita itu organik dari dapur atau rumah tangga yang memang butuh pengolahan khusus. Kami berharap dengan adanya biodigester ini, sampah bisa terolah langsung di tempat dan dihasilkan menjadi energi terbarukan berupa biogas yang bisa digunakan kembali oleh para penghuni rusun untuk memasak,” ujar Ghozi dalam keterangan tertulis, Selasa (6/10/2026).
Olah sampah di tingkat komunal
Direktur Utama Bank Jakarta Agus H Widodo menjelaskan, pembangunan fasilitas biodigester tersebut merupakan bagian dari komitmen perseroan dalam membangun ekosistem pengolahan sampah yang berkelanjutan di DKI Jakarta.
“Bagi Bank Jakarta, program lingkungan ini bukan hanya sekadar instalasi, melainkan bagian dari upaya membangun ekosistem pengelolaan sampah yang lebih dekat dengan masyarakat dan memiliki manfaat langsung. Pengolahan sampah menjadi energi terbarukan saat ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sudah menjadi satu kebutuhan bagi Jakarta,” jelas Agus.
Instalasi biodigester yang berada di Rusunawa Rorotan dan TPS 3R Kelurahan Rawa Badak Utara menggunakan digester biogas berbahan fiberglass. Fasilitas tersebut dilengkapi mesin pembubur sampah organik dengan kapasitas 250 kilogram per jam. Di Rusunawa Rorotan, fasilitas biodigester memiliki kapasitas pengolahan hingga 1,2 ton sampah per hari. Kapasitas tersebut disiapkan untuk menyerap sampah organik yang berasal dari sisa olahan dapur warga di lingkungan rusun.
Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara Edy Mulyanto mengatakan, Rusunawa Rorotan terdiri dari empat tower dengan sekitar 300 hingga 400 kepala keluarga (KK).
“Di Rusunawa Rorotan ini ada empat tower dengan sekitar 300 hingga 400 KK. Dengan estimasi timbunan sampah rata-rata, fasilitas biodigester berkapasitas pengolahan hingga 1,2 ton per hari ini akan sangat optimal menyerap sampah organik dari sisa olahan dapur warga,” kata Edy. Selain menghasilkan biogas yang dapat digunakan sebagai pengganti LPG untuk memasak, pengolahan tersebut juga menghasilkan produk samping berupa pupuk organik.
Fasilitas pengolahan sampah organik komunal tersebut menghasilkan pupuk organik cair sebanyak 400 hingga 450 liter per hari serta pupuk padat sebanyak 50 hingga 100 kilogram per hari. Produk tersebut dapat dimanfaatkan untuk kegiatan urban farming warga.
Pengurangan emisi Pengolahan sampah organik melalui biodigester juga disebut memberikan manfaat terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca,” tutur Edy.
(Tto)

