Jakarta, Suararepublik.id – Kualitas udara di Kota Palembang, Sumatera Selatan, mulai membaik setelah sebelumnya mencapai level ekstrem akibat kepungan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kualitas udara kini berada pada kategori tidak sehat, tidak lagi masuk zona sangat berbahaya.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, mengatakan tren perbaikan kualitas udara terus terlihat dalam beberapa hari terakhir.

“Alhamdulillah tren perubahannya terus turun sejak beberapa hari terakhir,” kata Wandayantolis, dikutip dari Antara.

Pada Minggu (18/10/2026), hasil pemantauan Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang menunjukkan kualitas udara berada pada level kuning atau kategori tidak sehat bagi kesehatan masyarakat.

Data BMKG mencatat konsentrasi partikel halus PM2.5 di stasiun tersebut mencapai 88,6 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 14.00 WIB.

PM2.5 merupakan partikel udara berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Partikel ini perlu diwaspadai karena dapat terhirup hingga ke saluran pernapasan bagian dalam.

Meski kualitas udara mulai membaik, masyarakat tetap perlu berhati-hati saat beraktivitas di luar ruangan, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan.

Polusi Udara Palembang Sempat Tembus Level Ekstrem

Sebelumnya, pada awal hingga pertengahan Oktober 2026, konsentrasi PM2.5 di sejumlah titik pemantauan di Palembang, termasuk Musi 2 dan Talang Betutu, sempat meningkat tajam.

Konsentrasi polutan bahkan tercatat berada pada kisaran 493 hingga lebih dari 1.000 µg/m³. Angka tersebut menunjukkan kondisi pencemaran udara yang sangat parah akibat kabut asap karhutla.

Penurunan konsentrasi PM2.5 menjadi perkembangan positif di tengah upaya penanganan dampak kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan.

Wandayantolis menyebut perbaikan tersebut terjadi setelah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaksanakan operasi modifikasi cuaca selama dua hari, yakni pada 15–16 Oktober 2026.

Upaya tersebut dilakukan untuk membantu mengatasi kabut asap yang menyelimuti wilayah Sumatera Selatan.

“Berkat penyemaian dry ice kualitas udara di Kota Palembang berangsur membaik dan meningkatkan jarak pandang secara signifikan,” ujarnya.

Masyarakat Tetap Perlu Waspada

Meskipun kualitas udara Palembang telah keluar dari kategori ekstrem, angka PM2.5 sebesar 88,6 µg/m³ masih berada pada tingkat yang tidak sehat.

Karena itu, masyarakat diimbau tetap memperhatikan kondisi udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker yang sesuai untuk menyaring partikel halus juga dapat dipertimbangkan ketika harus beraktivitas di tengah kabut asap.

Perbaikan kualitas udara ini diharapkan terus berlanjut sehingga kondisi lingkungan di Palembang kembali lebih aman dan nyaman bagi masyarakat.

 

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *