Jawa Barat, suararepublik.id – Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian menargetkan gerakan tanam padi serempak seluas 3.000 hektare di seluruh Indonesia, untuk mempercepat realisasi luas tambah tanam (LTT) pada musim hujan 2026.

Kepala BPPSDMP Idha Widi Arsanti di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Sabtu, mengatakan kegiatan tersebut dipusatkan di Kuningan dan dilaksanakan secara serentak di 14 provinsi.

“Tanam serempak hari ini Sabtu (7/11/2026), dari seluruh Indonesia berpusat dari Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat dan kemudian kita juga melaksanakan kegiatan ini serentak di 14 provinsi,” katanya.

Ia menyebutkan target LTT nasional saat ini sekitar dua juta hektare, sedangkan realisasinya masih kurang dari 10 persen, sehingga percepatan penanaman perlu dilakukan seiring datangnya musim hujan.

Menurut dia, ketersediaan air pada awal musim hujan menjadi peluang untuk mempercepat penanaman dengan melibatkan petani, penyuluh, serta seluruh pihak yang bekerja di lapangan.

BPPSDMP, kata dia, memilih Kabupaten Kuningan sebagai lokasi kegiatan karena daerah tersebut memiliki lahan optimalisasi lahan (opla), cetak sawah, serta kelembagaan Brigadir Pangan yang telah dibentuk untuk mendukung percepatan tanam.

Idha mengatakan lahan yang telah disiapkan untuk kegiatan tanam di Kabupaten Kuningan mencapai 20 hektare, sementara target gerakan tanam pada hari pelaksanaan sebanyak 3.000 hektare secara nasional.

Ia menjelaskan percepatan tanam diarahkan untuk mengoptimalkan lahan cetak sawah rakyat, yang sebagian konstruksinya telah selesai melalui operasionalisasi Brigadir Pangan.

Pelaksanaan kegiatan tersebut, lanjut dia, perlu menyesuaikan karakteristik wilayah karena kondisi lahan di setiap daerah berbeda, terutama dari sisi bentang alam dan agroekosistem.

“Penyesuaian terkait dengan alsintan yang digunakan ini juga akan dilakukan tentu saja dengan melihat kondisi agroekosistem yang ada,” katanya.

Ia mencontohkan penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) pada lahan datar dan hamparan luas lebih mudah, dibandingkan wilayah berbukit atau memiliki kemiringan seperti sebagian kawasan Kuningan.

Selain mempercepat penanaman, kata dia, gerakan tersebut diharapkan dapat mengatur distribusi waktu panen agar produksi padi tersedia lebih merata sepanjang tahun.

Idha menjelaskan pola tanam yang berlangsung menghasilkan panen secara berkala sekitar tiga bulan kemudian, sehingga tidak terjadi penumpukan produksi pada periode tertentu.

“Kami menghindari kondisi-kondisi di mana terjadinya panen puncak yang kemudian akan membuat harga turun atau kemudian juga saat paceklik yang akan membuat harga naik,” ujarnya.

Sebelumnya, BPPSDMP telah mengantisipasi potensi kekeringan dengan mempelajari informasi BMKG serta berkoordinasi dengan pemangku kepentingan.

“Data-data yang disampaikan oleh BMKG misalnya kita pelajari, kita sudah lakukan antisipasi,” ucapnya.

 

(Tto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *