TANGERANG, Suararepublik.id — Pelaksanaan proyek konstruksi baja jembatan menuju Stasiun Kereta Api Cisauk yang dikerjakan oleh PT Karya Multi Prima (KMP) menuai sorotan warga. Proses pengelasan di ketinggian area tersebut diduga belum menerapkan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara maksimal, hingga membahayakan keselamatan pengguna jalan di bawahnya.
Berdasarkan prosedur standar K3 proyek konstruksi, aktivitas pengelasan di atas jalur umum wajib dilengkapi fire blanket (terpal tahan api) tepat di bawah titik pengelasan. Selain itu, penyiagaan petugas pengawas (flagger) di area bawah sangat krusial untuk mengamankan dan mengarahkan arus lalu lintas dari bahaya percikan api.
Menanggapi hal tersebut, perwakilan PT Karya Multi Prima (KMP), Rudi, mengklaim bahwa pihaknya sebenarnya telah memasang fire blanket. Namun, ia beralasan percikan api yang menyebar ke jalan raya dipicu oleh hembusan angin kencang.
”Sesuai standar kita pakai fire blanket dan ada satu orang standby di bawah untuk mengawasi. Kalau malam saya standby di bawah, tapi kalau siang saya keliling area,” ujar Rudi saat dikonfirmasi di lokasi proyek, Jumat (7/8/2026).
Rudi mengungkapkan pengerjaan pengelasan dikejar untuk rampung hari ini lantaran masa sewa alat berat (crane) berakhir pada hari yang sama. Meski mengklaim telah menginstruksikan tim pengelas untuk melakukan proteksi penuh, ia mengakui pengawasan langsung di bawah lokasi kerja pada siang hari sempat terlewat sehingga arus lalu lintas tetap melintas di bawah area aktif.
Kondisi ini memicu kekhawatiran dan keluhan keras dari para pengguna jalan. Salah seorang pengendara motor mengaku menjadi korban percikan api pengelasan saat melintas di jalur padat tersebut.
”Saya tiap hari bolak-balik lewat sini. Memang sudah beberapa hari ini saya perhatikan pengerjaan lasnya ada percikan api. Pas tadi kebetulan saya yang kena, sempat saya marahi juga yang kerja. Untung saya pakai helm, coba kalau tidak, kena kepala saya,” ungkap salah satu pengguna jalan.
Warga menegaskan bahwa akses jalan tersebut merupakan jalur harian yang sangat padat mobilitasnya, termasuk oleh anak-anak sekolah pada jam sibuk. Pihak pelaksana diharapkan segera memperketat pengawasan K3 serta menerapkan rekayasa atau penghentian lalu lintas sementara saat aktivitas kerja risiko tinggi berlangsung demi keselamatan publik.

