JAKARTA,Suararepublik.id-Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Moh. Jumhur Hidayat menyebut Presiden Prabowo Subianto sebagai “presiden paling hijau” yang pernah memerintah Indonesia.

Pernyataan itu disampaikan Jumhur saat menerima delegasi dari enam lembaga investor global di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup, Jakarta, Selasa (4/8/2026).

Keenam lembaga tersebut adalah Seventh AP Fund, Green Century Capital Management, KLP Asset Management, UBS, Saturna Capital, dan Ziranjiti. Delegasi dipimpin Chairman of the Board of the U.S.-Indonesia Society, Duta Besar Robert O. Blake Jr.

Indonesia Dinilai Punya Potensi Investasi Hijau Terbesar

Dubes Blake Jr. menyampaikan Indonesia dipandang sebagai salah satu negara dengan potensi terbesar di dunia untuk investasi berkelanjutan. Hal itu didukung kekayaan modal alam, keanekaragaman hayati, sumber daya karbon, dan potensi ekonomi hijau.

Namun para investor menegaskan, keputusan investasi ke depan akan dipengaruhi kemampuan Indonesia mempertahankan tren penurunan deforestasi, memperkuat tata kelola lingkungan sektor tambang, meningkatkan standar ESG, menjaga integritas pasar karbon, melindungi keanekaragaman hayati, dan memberikan kepastian kebijakan jangka panjang.

Prioritas Ketahanan Pangan, Energi, dan Lingkungan

Merespons masukan tersebut, Jumhur mengatakan ketahanan pangan dan produksi bioetanol merupakan prioritas strategis nasional. Di saat bersamaan, Indonesia tetap berkomitmen menjaga keseimbangan pembangunan ekonomi dan perlindungan lingkungan.

Pemanfaatan lahan terdegradasi dan restorasi ekologi akan menjadi bagian penting melalui Gerakan Nasional Tobat Ekologis.

“Kebun sawit dan kebun tebu kami juga untuk mendorong program B50 yang itu jauh lebih ramah lingkungan, selain untuk ketahanan pangan dan menciptakan green jobs,” ujar Jumhur.

Program mandatori B50 resmi diluncurkan Presiden Prabowo pada 17 Juli 2026. Ini merupakan kelanjutan dari B30 dan B40 untuk mendorong kemandirian energi dan memanfaatkan kelapa sawit domestik. Dengan ini Indonesia menjadi negara pertama yang memproduksi biodiesel B50.

Komitmen Dekarbonisasi dan Energi Baru Terbarukan

Pemerintah Prabowo juga berkomitmen membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya 100 Gigawatt, masifkan dekarbonisasi industri, mewajibkan industri migas membangun Carbon Capture Storage (CCS), serta menghilangkan emisi metan dari sampah melalui Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL).

Untuk menjaga capaian ini, Indonesia akan memperkuat standar lingkungan, meningkatkan sistem audit, memperbanyak auditor lingkungan, serta memperkuat pengawasan dan penegakan hukum.

Jumhur menyebut saat ini memasuki fase baru peradaban: “Development through Environmental Protection”. Pembangunan yang bertumpu pada perlindungan lingkungan menggantikan model lama yang mengorbankan SDA.

Ia juga mengusung paradigma aksi iklim: mitigasi, adaptasi, dan kemakmuran. Dengan pendekatan ini, masyarakat lokal dan masyarakat adat diharapkan memperoleh manfaat ekonomi langsung dari konservasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *